Sabtu, 05 September 2009

KEHIDUPAN


Semarang, Sabtu 05 September 2009
Jam 10.30
By. Reza

Lahir dengan kepolosan wajah dan hati
Tanpa memikirkan sandiwara kehidupan
Tanpa memikirkan keduniaan

Dan ketika beranjak Remaja
Entah tuntutan hidup
Menengok ke sekeliling kita
Untuk menemukan Pendidikan dan Dambaan cinta

Dan beranjak Dewasa
Entah tuntutan hidup
Menengok ke sekeliling kita
Untuk menemukan rejeki dengan susah payah dan lelah tubuh
Untuk menemukan Pasangan Hidup

Dan beranjak Memiliki Pasangan
Entah tuntutan hidup
Menengok ke sekeliling kita
Untuk memiliki anak

Dan beranjak Tambah umur dan Menua
Entah tuntutan hidup
Menengok ke sekeliling kita
Untuk mengais rejeki tambahan demi anak
Dan melakukan pendekatan Tuhan yang lebih

Dan ketika kita mati
Entah tuntutan hidup
Menengok ke sekeliling kita
Untuk di kubur dan di doa kan

Haruskah itu berlaku..........
Se simple itu kah kita menjalani...
Ketika kita jalani rasanya sungguh berat sekali mengayunkan langkah...
Memperhatikan sekeliling kita...
Haruskah kita sekolah...
Harus kita punya pacar...
Haruskah kita punya pasangan...
Haruskah kita punya anak...
Haruskah kita mengais rejeki....
Haruskah kita berdoa dan punya agama...........
Haruskah kita mati....
Haruskah kita di kubur dan di doakan..............

Takdir Manusia kah ini...........
Oh andai ku hidup tanpa harus menjalani proses ini...
Dengan tanpa beban...
Seperti lahirnya seorang bayi..
Dengan kepolosan hati dan tanpa beban serta dosa....
Apakah bisa...
Tak ada yang bisa menjawab...

Puji Allahku
Puji Tuhanku Yesus
Ku hanya bisa menyerahkan kegundahan hati, kesedihan hati dan puji syukurku
Dalam Doa ku kepada Mu
Dalam menjalani Takdirku
Hanya tak mudah bagiku
Menjalani Takdirku
Berilah sedikit kelegaan Hati
Berilah sedikit kesabaran hati
Berilah ketentraman hidupku
Amin

Kamis, 12 Februari 2009

BIARKANLAH KASIH MENGALIR DI AURAMU

Biarkanlah Kasih menyentuh hati mu
Membuat merasa ketenangan hatimu
Seakan membuat dunia merasa milikmu
Sehingga melayangkan jiwamu

No idea lagi nih....

Jumat, 23 Januari 2009

WANITA SUPER

SEMARANG 23 JANUARI 2009


Gak tau kenapa aku suka ma lagu milik Nafa Urbach yang judulnya Wanita Super Yang bisa mengilhami banyak n rasanya dalem banget gitu looh......
Yang belum tau ni aku kasih liriknya....

WANITA SUPER
By NAFA URBACH
Ku persembahkan buat Mamahku

Pernah kah kau pikirkan aku
Pernah kah kau anggap ku penting
Pernah kah tanyakan yang ku mau yang ku rasa yang ku inginkan


Kau mencari ku aku ada
Kau ingin cinta ku berikan
Telah ku lakukan semua permintaan
Penuhi permintaanmu terus dan terus

Aku bukan wanita super
Aku ingin juga kau sayang
Aku ingin juga cintamu lebih dan lebih
Aku bukan wanita super
Selalu ada saat kau butuh
Terus sempurna di depan mu
Terus dan Terus

Jangankan aku
Tak kan ada yang bisa

Pernahkah kau mencintaiku
Pernahkah kau menerima
Kelemahan yang ku punya
Karena selama ini
Untukmu ku begitu
ah ha ah ha

Aku bukan wanita super
Aku ingin juga kau sayang
Aku ingin juga cintamu lebih dan lebih
Aku bukan wanita super
Selalu ada saat kau butuh
Terus sempurna di depan mu
Terus dan Terus

Jangankan aku
Jangankan aku
Tak kan ada yang bisa...................

Sabtu, 03 Januari 2009

STRATEGI WARUNG-2

THE WAR OF THE WARoengS - bag.2

Dalam mengelola warung, “ketulusan merpati” saja tidak cukup. Kita harus juga memiliki “kecerdikan ular” (Matius 10:16) dalam mendapatkan barang murah tapi tidak kadaluwarsa; mengelola persediaan barang dengan modal kecil; menentukan laba dalam ketatnya persaingan; mengefisiensikan ruang warung yang sempit; melakukan promosi kecil berdampak besar. Dari berbagai pengetahuan ini, manakah yang paling penting? Anda pasti setuju bila saya mengedepankan ketrampilan menentukan laba. Bukankah kepandaian ini yang membuat sebuah warung berjaya?

Tapi saya kurang setuju karena tiba-tiba saja teringat saat George Soros menguji ketahanan sistim ekonomi Asia. Kata teman-teman saya yang Tapanuli, di Medan ia berganti nama menjadi Krismon Hutabarat – krisis moneter hutang tambah berat. Banyak pedagang kecil yang bangkrut. Juga warung yang sebelumnya berjaya. Kata “mengapa” dalam perusahaan tempat saya bekerja sudah menjadi “kredo harian”. Bahkan bila angka penjualan naik, kami bisa mendapat nilai prestasi “C minus” bila tidak tahu “mengapa”nya. Karena itu kami menyelidiki mengapa warung-warung yang berjaya itu bisa ambruk dilibas si Krismon.

Ternyata banyak dari mereka punya satu kesamaan, yaitu mereka menyatukan keuangan warung dengan keuangan rumah tangganya. Mereka makan barang yang ada di warungnya. Mereka mengambil uang dari kas warung untuk belanja sehari-hari dan membayar SPP anaknya. Mereka melihat di warung selalu ada uang dan barang tanpa menyadari bisnis warungnya sedang sepi. Mereka memang merasakan warungnya sepi, tetapi tidak tahu seberapa sepi. Mereka baru sadar ketika tidak bisa mengisi warungnya dengan barang sebanyak dulu karena uang untuk kulakan (membeli barang untuk dijual kembali) selalu kurang. Akibatnya, ragam dan jumlah barang berkurang. Mereka bangkrut tanpa kehilangan pelanggan.


Uang warung terpisah dari uang rumah.

“Geografis” warung yang menyatu dengan tempat tinggal pemiliknya bisa menjadi sumber masalah. Banyak yang berpendapat bahwa uang atau barang yang ada dalam warung bisa dipergunakan untuk keperluan rumah tangga. Ibu memanggil tukang sayur keliling, belanja, lalu mengambil uang 10 ribu dari kotak kas warung. Bapak ingin merokok, ia ambil sebungkus rokok dari lemari warungnya. Mengapa tidak boleh? Yang ada di warung itu kan milik Bapak dan Ibu? Si Anak sebelum berangkat ke sekolah mengutil 2 keping coklat batangan. Daripada minta uang jajan kena marah, lebih baik mencuri barang milik sendiri. Esok hari ketika Bapak mau ke grosir untuk beli barang, kotak kas warung hanya berisi uang 95 ribu rupiah. Padahal ia perlu uang 125 ribu rupiah sesuai dengan jumlah barang yang sudah laku. Ibu tidak bersedia menutup kekurangannya. Ia kuatir rekening listrik yang belum dibayar lebih tinggi daripada bulan yang lalu. Gampang ditebak akhir cerita ini. Perlahan jumlah barang yang ada di warung menyusut dan akhirnya habis di“black debt“ oleh “para pejabat dalam negeri”.

Kumpulkanlah seluruh anggota keluarga. Yakinkan mereka bahwa menyentuh uang warung bisa membuat warung stroke. Serahkan kepada Ibu di awal bulan uang belanjanya untuk sebulan. Jika ia nanti mengambil beras dari warung, ia harus membayar. Boleh pinjam uang untuk beli sayur, tetapi sebelum matahari terbenam harus sudah dilunasi.

Untuk mengawasi pelaksanaan peraturan ini, begitu pembeli meninggalkan warung Anda, catat apa yang telah ia beli. Selama warung Anda belum beromzet di atas 750 ribu rupiah sehari, pasti masih ada waktu untuk mencatatnya secara manual di buku tulis. Setelah warung tutup, cocokkan catatan itu dengan uang yang ada di kotak kas. Pisahkan uang hasil labanya. Lalu sisihkan dari laba uang belanja rumah tangga untuk 1 hari. Bukan untuk diserahkan kepada Ibu, tetapi untuk ditabung yang pada akhir bulan diserahkan kepada “yang berwajib” sebagai uang belanja bulan berikutnya.

Dari catatan itu, Anda tahu jumlah barang yang harus dibeli di grosir. Bila laba setelah dikurangi tabungan uang belanja masih ada sisanya, tabunglah sisa itu untuk disatukan dengan laba esok hari. Siapa tahu laba esok hari tidak cukup untuk tabungan uang belanja rumah tangga 1 hari.

Uang belanja rumah tangga ditentukan oleh laba warung.

Bila pada akhir bulan tabungan uang belanja rumah tangga belum mencapai target, ada 2 pilihan. Menambahinya dengan uang kas warung yang berarti mengurangi persediaan barang, atau merampingkan anggaran rumah tangga dengan menghapus satu dua mata anggaran. Jika sebelumnya anak ke sekolah naik angkutan umum, sekarang harus jalan kaki. Mengapa anak yang saya pilih sebagai contoh? Karena biasanya kita paling tidak bisa mengurangi fasilitas untuk anak. Kasihan, tidak tega, masih imut-imut kok sudah harus ikut menderita.

Seorang pemilik warung eceran di Banda Aceh yang selamat dari badai krismon bercerita kepada saya. “Anak saya yang biasa naik angkot, menangis ketika saya suruh jalan kaki ke sekolah. Malu sama teman, katanya. Saya marah sekali. Saya berteriak kepadanya. ‘Kamu lihat tauke-tauke Cina di kota ini yang kayanya seribu kali daripada bapakmu? Mereka panggil pulang anak-anaknya yang sekolah di luar negeri untuk bersekolah di Banda atau di Medan. Anak-anak mereka jauh lebih malu daripada kamu. Tetapi mereka menurut karena mau membantu bapaknya.’ Malam hari waktu ia mau tidur, saya urut-urut kakinya. Saya sedih melihat penderitaannya. Saya ingin sekali mencabut perintah saya. Tetapi mau bagaimana lagi? Pelan-pelan ia saya beri pengertian. Untung ia mau mengerti. Sekarang? Dia ikut senang. Ia bisa ke sekolah naik sepeda.”

Sebaliknya bila laba sebulan setelah dipotong jatah belanja bulanan masih bersisa, jangan tergoda untuk menaikkan anggaran rumah tangga. Simpanlah kelebihan itu untuk berjaga-jaga apabila laba bulan berikutnya berkurang.

Memanfaatkan sisa hasil usaha.

Suatu ketika ayah saya bercerita. “Kamu tahu mengapa pedagang Cina totok cepat kaya? Ketika hari ini ia dapat untung 10 ribu rupiah, 8 ribu ia tambahkan ke modal, 2 ribu ia makan. Ia beli beras seperempat kilo dan sedikit garam untuk membuat bubur. Untuk lauknya ia beli tulang besar, diikat dengan kawat, dicelupkan ke dalam bubur yang mendidih itu. Waktu bubur dipindah ke mangkok, tulang itu ditarik ke atas digantung di dapur. Esok hari jika ia untung lagi 10 ribu rupiah, 8 ribu ia tambahkan ke modal. Karena tidak perlu lagi beli tulang, uang jatah tulang ia belikan bumbu masak. Kalau esok harinya lagi ia untung 15 ribu rupiah, yang 12 ribu ia tambahkan ke modal, yang 2 ribu untuk belanja rutin dan yang 1 ribu ia belikan lemak babi untuk dimasukkan ke dalam bubur.”

Apabila setelah 3 bulan laba terkumpul setelah dikurangi jatah belanja rumah tangga selalu masih ada sisa, ada 3 pilihan untuk memanfaatkannya. [1] Investasi ditambah, uang belanja tetap. [2] Investasi ditambah, uang belanja ditambah. [3] Investasi tetap, uang belanja ditambah.

Paling baik mengambil pilihan pertama. Jika selama ini kita hanya menyediakan sabun mandi merek A dan B saja, sekarang masukkan merek C. Stoknya tidak perlu banyak, cukup 3 potong saja. Jika selama ini Anda tidak pernah menyediakan alat tulis, sekarang cobalah menyediakan setengah lusin ballpoint yang bisa dijual seribu rupiah sebatang. Juga mulailah menyediakan air mineral cup satu dos isi 48. Tapi, agar Ibu di rumah tidak memasang wajah gelap, yang bisa mengurangi keceriaan wajah Anda menghadapi pelanggan, ambil-alihlah rekening listrik. Pembukuan (=dicatat) warung mulai membuka lajur pengeluaran untuk biaya rumah tangga rutin yang dapat diperkirakan jumlahnya (dalam hal ini rekening listrik). Kelak kita ambil juga SPP anak bila dengan bertambahnya jenis barang dan merek, omzet harian bertambah sehingga laba bertambah juga. Inilah aplikasi filosofi “menggantung tulang di dapur”. Bersakit-sakit dulu agar kelak bisa menikmati kesenangan dengan hati tenang. Ketenangan membuat wajah bersinar. Wajah bersinar mengundang lebih banyak orang datang masuk ke warung.

Berapa modal yang dibutuhkan?

Jika Anda seorang guru SD Kristen yang bergaji kecil dan ingin menambah penghasilan; atau seorang pelajar yang ingin membantu income ortu; atau sekedar merasakan betapa susahnya mencari uang; please remember this advice. Jangan sekali-sekali memanfaatkan kartu kredit untuk modal membuka warung. Pusing dan hidup Anda tak tenang. Setelah warung Anda buka, believe me, tidak sedikit salesman yang akan menawarkan barang secara kredit (bukan titip jual). Jangan menerima tawaran ini. Karena pada saat jatuh tempo, barang itu habis ataupun tidak, kredit harus dilunasi. Anda terpaksa menambah modal dalam bentuk persediaan barang yang kurang laku.

Belajarlah dengan modal kecil dulu, Rp.75.000 cukuplah. Jualan apa dengan modal sekecil ini? Mi instan, telur dan permen. Mi itu tahan lama sehingga tak perlu berkuatir bila 1 hari hanya laku 1 bungkus. Sebaliknya, telur itu cepat rusak. Di sini kita belajar sebuah ketrampilan yang dalam bahasa kerennya disebut stock management, yang berpendapat stok barang tidak boleh terparkir lama karena itu berarti uang berhenti bertumbuh. Beli 1 kilo dulu dan jual per butir. Permen, jual tanpa untung agar lebih murah dari warung lain untuk menarik anak-anak yang disuruh ibunya belanja berbelok ke “warung mini” Anda. Bahkan dengan barang-barang itu Anda yang sekolah siang bisa sekalian menawarkan sarapan-cepat-saji (mi rebus telur, misalnya) bagi mereka yang akan berangkat kerja atau sekolah pagi dan kebetulan sarapan mereka di rumah belum sempat disiapkan.

Tetapi hati-hati, 3 item ini juga favorit orang rumah. Di sinilah kita belajar disiplin keuangan terpisah. Adik selalu melirik stoples permen sambil menduga-duga kapan Anda lengah. Tengah malam Ayah mengambil mi tanpa permisi. Pagi hari Ibu menyambar 4 butir telur. Suruh mereka bayar walau Anda ikut makan telur dadarnya. Aduh, sadis ya? Sekali lagi, itulah sisi yang menyakitkan dari disiplin pengelolaan keuangan.

Selamat berwiraswasta. Jangan lupa, bila sukses bagilah kisah dan kiatnya kepada yang lain. “Bukankah berbagi ilmu sama dengan menciptakan pesaing?” mungkin begitu pendapat Anda. Jangan kuatir. Biar sepuluh orang punya ilmu yang sama dengan kita, senyum kita beda dengan mereka. Senyum orang yang punya kasih Allah Bapa lebih tulus sehingga lebih memikat. Percayalah.

By P

STRATEGI WARUNG KECIL-Be Creative

THE WAR OF THE WARoengS

Be creative

Ketika saya sedang berbincang-bincang dengan pemilik warung di sebuah desa di punggung Pegunungan Bukit Barisan, mendadak ada aroma harum lembut menyambar hidung saya. Seorang kernet angkutan umum berdiri di dekat saya membeli air mineral. Saya hafal bau itu karena pernah mengakrabinya. Rambutnya kinclong. Itu bau pomade merek beken yang pernah saya pakai. Krismon membuat saya beralih merek. Tetapi di sini malah seorang kernet bisa memakainya. Keluar dari warung itu, melihat angkutan umum berlalu lalang, saya heran. Kebanyakan rambut kernetnya rapi berminyak. Saya mendekati seorang kernet yang sedang mencari penumpang. Hidung saya menangkap bau wangi lembut merek lain. Saya penduduk kota besar, mengapa kalah dengan kernet di pelosok pegunungan ini? Pertanyaan “mengapa” memberi tantangan untuk berburu.
Usaha saya tidak sia-sia. Di ujung satu-satunya jalan desa itu, ada sebuah kios yang ramai karena di dekatnya ada sebuah sekolah dan tempat angkutan umum mangkal. Di situ saya melihat ada 4 cup pomade merek beken dijual eceran. Satu colekan pada sebilah bambu pipih dijual 2000 rupiah. Pembelinya menerima colekan itu di telapak tangan dan langsung mengusapkan ke rambutnya. Sebuah cermin kecil dan sisir disediakan di sana.
Sebuah ide brilian. Dengan cara yang sama kita bisa menjual parfum mahal secara eceran. Satu semprotan, criiiit, 4 ribu rupiah misalnya. Dengan demikian para ibu yang mau kondangan bisa berganti-ganti parfum tanpa harus merobek dompet suaminya. Pernahkah terpikir oleh kita untuk menjual coklat batangan merek beken tidak per batang, tetapi ¼ batangan agar anak yang uang jajannya sedikit bisa juga menikmatinya?
Kreatif (creative) berasal dari kata to create, menciptakan. Menciptakan sebuah ide yang sebelumnya tidak ada. Mungkin ide itu pada awalnya dianggap aneh. Ketika kertas tisiu mulai dipasarkan, sementara setiap orang yang keluar rumah pasti membawa saputangan, orang bilang ini ide gila. Begitu juga ketika untuk pertama kalinya air mineral dipasarkan. Saat itu harganya per liter di atas harga premium. Kalau saja premium tidak berbahaya bila diminum, pasti kita akan lebih suka minum premium daripada air mineral.

Pewarung kecil juga harus kreatif menghadapi persaingan yang ketat. Misalnya,

Menyiasati ruang kecil

Biasanya, sempitnya ruang warung membuat pemiliknya tidak bisa menambah ragam barang yang dijual. Inginnya sih jual beras juga. Tetapi ditaruh di mana? Jual minyak goreng eceran? Aduh repot, mengotori tangan. Be creative, man. Masih ada ruang kosong yang Anda punya. Di mana?
Sebuah warung menempelkan poster di daun pintu bertuliskan “Jual minyak goreng eceran, gula pasir dan beras”. Tetapi tidak ada barang itu di warungnya, kecuali 3 kantong plastik bening berisi beras, 1 kantong plastik bening berisi gula, dan 1 botol air mineral berisi minyak goreng. Itu sampel. Lalu bagaimana bila ada yang mau membelinya?
Ia menekan tombol HT mainan dan berkata, “Cepetan bawa ke depan, gula pasir ¼ kilo, mentik wangi super ½ kilo, minyak goreng ¼ liter.” Sebentar kemudian seorang anak keluar menenteng keranjang berisi barang-barang itu. Lihat, tidak makan tempat, tidak berceceran dan bersih.

Menangkap setiap kesempatan yang lewat

Ketika memeriksa stok produk yang saya jual di sebuah warung, saya melihat di rak paling bawah ada 4 kotak ban dalam sepeda motor. Lo, warung kelontong kok jual ban dalam sepeda motor? Lalu pemilik warung ini bercerita.
Suatu hari seorang lelaki tua yang berbelanja di warungnya bercerita mau pergi membeli ban dalam sepeda motor. Profesinya tukang tambal ban. Lalu ia diinterogasi. Merek apa yang biasa dibelinya. Berapa harga belinya. Daripada ia meninggalkan pekerjaannya, bagaimana bila warung ini menyediakan kebutuhannya dengan harga sama? Pemilik warung ini berpikir, bila saya beli sekaligus 10 buah ban, pasti dapat harga lebih murah daripada harga beli tukang tambal ban ini. Dengan demikian ia mendapat laba, sementara tukang tambal ban ini juga untung karena ia tidak perlu mengeluarkan biaya transpor. Akhir cerita, warung kelontong itu menyediakan ban dalam sepeda motor untuk 1 orang pelanggannya ini.
- o -
Harga susu kaleng untuk bayi di bawah 2 tahun saat ini tidak bisa dibilang murah. Memang susu asi adalah yang terbaik. Sayangnya tidak setiap ibu mempunyai kapasitas produksi sesuai demand. Kita bisa menolong mereka (yang bayinya telah berusia 1 tahun) dengan membeli susu sapi dari KUD dengan harga Rp.3.000 per liter dan setelah memasaknya (tanpa diberi gula) menjualnya dengan harga Rp.1.500 per ¼ liter yang setara dengan volume 1 gelas kecil. Mengapa labanya 100% padahal sebelumnya saya pernah menyarankan tidak lebih dari 12½%?
Menjual susu sapi tidak berbeda dengan berjualan nasi. Untuk makanan segar, pada umumnya orang menetapkan laba di atas 50%. Kita harus memperhitungkan kemungkinan terjadinya sisa barang yang tidak terjual yang harus dibuang. Walaupun setelah memasaknya sampai mendidih dan kemudian memasukkannya ke lemari pendingin, setelah 24 jam susu sapi itu bisa mulai terasa sedikit masam. Bila ini terjadi, jangan dijual!
Jalan tengahnya, kita bisa menawarkan harga lebih murah, misalnya Rp.1.250, bila pembayaran oleh pelanggan dilakukan sehari sebelumnya. Dengan cara ini kita bisa menyediakan susu sapi sesuai dengan pesanan yang sudah masuk.
Kesempatan menjual susu sapi siap minum juga ada bila warung Anda berada dalam kawasan industri yang berpolusi tinggi. Ceritakan kepada para karyawan yang mampir di warung Anda bahwa susu sapi meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau permintaan belum ada, apa salahnya menciptakannya. Teori supply mengikuti demand sudah kuno.

Warung kelontong menjual jasa

Jika Anda punya pembantu dan pekerjaannya belum optimal, cobalah menjual produk yang bernama jasa. Misalnya jasa pembayaran rekening listrik, telepon dan air minum. Pasti pelanggan Anda tidak berkeberatan membayar jasa Anda Rp.1.000 per rekening. Tetapi setelah dipotong ongkos parkir, untungnya kan jadi kecil sekali, mungkin itu komentar Anda. Jangan lupa, dengan cara ini Anda telah “mengikat” orang itu untuk setia datang ke warung Anda. Paling tidak sebulan 2 kali ketika ia menyerahkan rekening lama dan uang muka serta ketika mengambil rekening baru dan sisa uangnya. Masak ia tidak tergoda untuk beli barang lain?
- o -
Bila di sekeliling warung Anda banyak tempat kos mahasiswa, bagaimana bila Anda menyewakan kotak pos seperti yang ada di kantor pos? Orang kos biasanya sering berpindah-pindah alamat dan ini akan menyulitkannya apabila ada yang bersurat kepadanya. Nah, warung Anda boleh dipakai alamatnya untuk menerima surat-suratnya. Biayanya? Untuk setiap surat yang diterimanya lewat warung Anda, ia membayar Rp.500. Sedikit amat? Yang penting bukan berapa uang jasa Anda, tetapi berapa kali dalam seminggu ia mendatangi warung Anda untuk menanyakan apakah yayasan beasiswa sudah berkirim surat kepadanya. Tidak perlu menyediakan sederet kotak pos. Satu kotak kecil saja, cukuplah.
- o -
Apakah daun pintu warung Anda menganggur? Betul? Masih menganggur? Itu tidak bisa dibenarkan. Setiap centi ruang, dinding, pintu harus memberi manfaat bagi warung. Ambil papan triplek, potong selebar pintu itu, gantungkan di pintu, dan di bagian atas tempelkan tulisan “Iklan Mini”. Pelanggan bisa menempelkan iklannya selebar kertas A4. Ia bisa mengiklankan USB ¼ Giga-nya yang menganggur karena ia sudah memiliki yang 2 Giga. Ia bisa mengiklankan kebutuhannya akan seekor anak kucing. Ia bisa mengumumkan dirinya akan berwisata ke Bali dan mencari teman seperjalanan.
Pungut biaya sewa tempat Rp.500 untuk 1 lembar iklan A4 untuk waktu 1 hari. Murah amat! Betul! Kita tidak membutuhkan uangnya, tetapi kedatangan lebih banyak orang untuk menengok daun pintu warung kita. Ramainya orang di warung kita, memberi kesan kepada orang yang lewat bahwa warung kita punya banyak pelanggan. Kesan ini kelak membuat ia ingin mampir ke warung kita.
Bukankah hal yang sama terjadi bila kita melihat warung nasi tenda yang selalu ramai? Apa yang ada dalam pikiran kita? Pasti makanannya enak. Paling tidak harganya bersaing. Suatu saat aku mau mampir untuk tahu apa yang membuatnya laris.

Tetap rajin walau bermodal 1 talenta

Kreatif, sering dipelesetkan menjadi “kere aktif”. Kenyataan membuktikan plesetan ini tidak sepenuhnya salah. Lebih sering mereka yang berada dalam keterbatasan fasilitas yang termotivasi habis-habisan menyiasati keterbatasannya ini.
-o-
Dalam memperingati ulang tahunnya yang ke-40, sebuah gereja menerbitkan buku berisi kumpulan kesaksian jemaatnya di bawah judul “From Grace to Grace”. Salah satu artikelnya menceritakan kesaksian seorang ibu yang telah menjahitkan baju toga bagi lebih dari 20 pendeta yang berasal dari 15 gereja yang berbeda.
Tukang jahit adalah profesi yang biasa-biasa saja. Tetapi jadi istimewa di tangan ibu ini, karena ia tidak memungut biaya serupiah pun dari kerja kerasnya ini. Tahun 2004 ia kena stroke. Baru 2 hari keluar dari rumah sakit, ia menerima telepon dari sebuah gereja, minta dibuatkan toga untuk pendetanya. Tubuh bagian kanannya belum pulih benar. Untuk bisa menggerakkan tangan kanannya, tangan kirinya harus membantu mengangkatnya. Untuk meletakkan kaki kanannya pada dinamo mesin jahit, tangan kirinya juga harus membantu. Tetapi ia tidak menolak permintaan ini. Empat hari dibutuhkannya untuk memotong kain. Dengan kemauannya yang keras, pekerjaan ini bisa diselesaikannya. Mengapa beliau tidak beristirahat 1-2 bulan dulu? Saya yakin, ia tidak mau kesempatan membelanjakan 1 talentanya lewat begitu saja.
Salah satu karakter pemodal kecil yang sukses adalah tidak pernah mau melepas kesempatan sekecil apa pun. Apakah kita mau mempergunakan strategi THE WAR OF THE WARoengS ini ketika berkiprah dalam THE WAR OF THE WARriorS di ladang Tuhan? Kita tidak akan membubarkan kelompok PA hanya karena yang hadir 10 orang. Kita tidak akan berdiri di depan 5 anak Sekolah Minggu tanpa persiapan yang baik. Kita tidak akan membiarkan 1 orang saudara seiman yang malas ke gereja tidak kita lawat.
Kita ingin kelak Bapa Surgawi tercengang ketika menyambut kita pulang. “Apa? Kamu bawa oleh-oleh untuk-Ku 25 talenta? Bukankah dulu Aku hanya memberimu 1 mina saja?”
By P

Make a hope at 2009



Semarang 3 Januari 2009

Ups sudah tahun 2009....

Membuat sebuah impian.......
Membuat sebuah harapan...
Dan biarkan tangan Tuhan Yesus bekerja...

Aku hanya
Ingin seorang anak...
Yang terlahir di rahimku sendiri...
Yang menangis keras...
Yang menghibur sekeluarga dengan kelucuannya...
Yang membuat hati tenang dengan kepolosannya...
Yang membuat kesibukan seisi rumah...
Yang membuat keramaian di sebuah rumah...

Aku sudah berusaha mencarinya dan menciptakanya...
Tapi kenapa Tuhan belum memberi dan mengabulkannya...
Apa salahku..
Apa dosaku...
Aku hanya bisa berdoa dan berharap..
Kiranya Tuhan mengabulkannya pada Tahun ini..

Aku hanya
Ingin menjadi seorang ibu dan istri yang baik...
Yang merawat anak dan suami...

Aku bukan perempuan yang sempurna..
Aku bukan perempuan yang baik..
Aku bukan perempuan yang bodoh..
Aku hanya ingin melakukan yang terbaik dalam hidupku

Ku tujukan untuk Tuhan Yesus dan Calon anakku

Kamis, 18 Desember 2008

X-Mass 2008..............

Semarang, 18 Desember 2008

Natal segera tiba........

Menambah diri semakin mengingat Tuhan Yesus
Anak-anak kecil sudah mempersiapkan Perayaan Christmas dengan pakaiannya
Orang Dewasa juga sudah mempersiapkan apa yang dapat diberikan
Keluarga saling bercengkeraman untuk membuat pohon Natal...
Menghias Pohon Natal dengan hiasan sinterklasnya.....
Sambil bercanda dengan sanak familinya...

X mass.............
Everything make peace n happy
Cause make hapy n together

Natal.... Tuhan Yesus....... Sinterklas dan keretanya...
Membayangkan itu semua.....
Make smile...